Senin, 12 Januari 2015

Pengaruh Penggunaan Metode Karyawisata terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kebutuhan hidup manusia dalam menjalani kehidupan yang mengarah kepada perkembangan untuk lebih baik dari kehidupan sebelumnya, sehingga pendidikan harus diarahkan kepada upaya untuk memajukan dan mengembangkan umat manusia seutuhnya. Pendidikan merupakan suatu proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku (akhlak) yang sesuai dengan kebutuhan.[1] Jadi, manusia tidak bisa lepas dari proses pendidikan sebab telah menjadi kebutuhan pokoknya.
“Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep dan pandangan hidup mereka.”
Penyelenggaraan pendidikan, selain harus selalu direncanakan  untuk mengembangkan potensi untuk meningkatkan sumber daya manusia, juga harus mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan agar memiliki karakter sebagai manusia yang berbudaya dan terdidik seperti dijelaskan dalam Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 tentang tujuan pendidikan nasional yaitu:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang memiliki sikap demokratis dan bertanggung jawab.[2]
Oleh karena itu, fungsi pendidikan harus benar-benar diperhatikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional, sebab tujuan berfungsi sebagai arah yang jelas terhadap kegiatan penyelenggaraan pendidikan.
“Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal diharapkan mampu merencanakan dan mengembangkan proses pembelajarannya, sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif bagi peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, yaitu berkembangnya seluruh potensi jiwa, terbentuknya karakter atau watak dan peradaban manusia yang bermartabat. Aktivitas pendidikan terkait dengan tujuan pembentukan manusia seutuhnya, dalam rangka memajukan peradaban.”
Sementara itu, mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang  sangat penting terkait dengan perkembangan agama Islam. Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berisikan tuntunan bagi siswa dalam menjalani kehidupan agar memiliki pribadi yang soleh atau solehah sebagaimana yang telah dijalankan oleh pelaku-pelaku sejarah umat Islam terdahulu.
Adanya berbagai jenis hambatan dalam diri guru maupun siswa dapat menimbulkan proses belajar mengajar menjadi tidak efektif dan tidak efisien. Padahal suasana belajar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam sangat berpengaruh dalam peningkatan kualitas belajar mengajar. Apabila pembelajaran itu menyenangkan maka akan dapat menimbulkan minat dan motivasi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini guru harus dapat memfasilitasi siswa agar dapat meningkatkan potensi yang dimiliki oleh siswa dan membuat siswa aktif dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dapat tercapai.
Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang diperoleh siswa sering monoton dan disajikan kurang menarik oleh guru. Dalam pembelajaran konvensional siswa selalu mengantuk dan perhatiannya kurang karena membosankan, sehingga pemahaman belajar menurun.
Penggunaan metode yang kurang tepat dapat menimbulkan kebosanan, kurang dipahami, dan monoton sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar. Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang biasanya menggunakan metode konvensional memang sudah membuat siswa agak aktif, namun kurang dapat mengembangkan keterampilan sosial siswa yang kelak dapat berguna dalam kehidupan sosial.
Kondisi seperti ini membutuhkan strategi pembelajaran yang dapat melibatkan semua peserta didik sehingga dapat saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan. Salah satu alternatif yang bisa dipilih dalam rangka menghasilkan pembelajaran yang berkualitas yaitu pembelajaran kooperatif. Banyak guru menyatakan bahwa mereka telah melaksanakan metode belajar kelompok. Mereka telah membagi para siswa dalam kelompok dan memberikan tugas kelompok. Namun, guru-guru ini mengeluh bahwa hasil kegiatan-kegiatan ini tidak seperti yang diharapkan. Siswa bukannya memanfaatkan kegiatan tersebut dengan baik untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan, mereka malah memboroskan waktu dengan bermain, bergurau dan sebagainya.
Dalam penelitian ini penulis meneliti tentang metode pembelajaran karyawisata, karena berdasarkan survei yang dilaksanakan peneliti di MTs Miftahul Huda Cilegon sudah banyak metode pembelajaran yang diterapkan. Sedangkan metode pembelajaran karyawisata merupakan metode yang paling jarang diterapkan di MTs Miftahul Huda. Metode karyawisata atau belajar melalui kunjungan langsung merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa. Penerapan metode ini dimulai dari beberapa teknik yaitu guru menentukan sumber, siswa disuruh mengamati dan menganalisis sumber, siswa membuat pengembangan program karyawisata dan kemudian siswa mempresentasikan, serta mendiskusikannya.
Metode pembelajaran karyawisata selain membantu siswa untuk melihat langsung peninggalan-peninggalan sejarah perjuangan dan perkembangan agama Islam dan membantu siswa untuk lebih mudah memahami konsep-konsep yang sulit, juga memberikan suasana belajar siswa yang menyenangkan.
Hal lain yang penting dalam pembelajaran karyawisata adalah dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan sikap yang positif, menambah motivasi belajar dan rasa percaya diri bagi siswa, menambah rasa senang berada di sekolah dan rasa sayang terhadap teman-teman sekelasnya.
Seiring dengan hal tersebut, salah satu metode yang diterapkan oleh guru sejarah kebudayaan islam di MTs Miftahul Huda dalam menyampaikan pelajarannya metode karyawisata karena dengan metode ini siswa akan lebih mengerti dan memahami materi pelajaran yang disampaikan.


[1] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), Cet.ke-17, h. 10.
[2] UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

0 komentar:

Posting Komentar

Friends

Followers

Fave This

Bukan Portal Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts