BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Mengasuh dan mendidik anak
merupakan tanggung jawab semua, terutama orang tua di keluarga dan guru di sekolah.
Karena keterbatasan waktu yang
dimiliki orang tua dan frustasinya para pendidik dalam mendidik anak, mereka cenderung menerapkan pola pendidikan yang
didapatkan dari pengalaman masa
kecil. “Beberapa pola pendidikan dan kebiasaan kurang tepat yang sering
dilakukan oleh orang tua atau guru seperti:
menyuap anak sebelum melakukan sesuatu, mengancam, menghukum, membandingkan dengan lainnya.”
Anak-anak zaman
sekarang berbeda dengan anak-anak zaman
dahulu. Anak-anak zaman informasi dan teknologi lebih aktif, kritis dan agresif sehingga dengan penyampaian saja dirasa belum
cukup. Mereka harus diperlakukan sesuai
dengan kebutuhan, karakter perkembangan anak serta perkembangan zaman. Dalam konteks pendidikan, anak didik
(siswa) memiliki peran yang sangat
penting karena sebagai sasaran (obyek) sekaligus pelaku (subyek) pendidikan. Perbedaan antara individu satu dengan
lainnya, baik itu disebabkan oleh faktor
endogen (fitrah) maupun eksogen (lingkungan) yang meliputi aspek jasmani, intelegensi, sosial, bakat, minat
maupun lingkungan yang mempengaruhinya
sangat menentukan keberhasilan dan masa depan anak.
Keberhasilan
pembelajaran juga sangat tergantung dari
strategi dan proses pembelajaran yang dilakukan guru meskipun juga masih
ditentukan oleh faktor lain seperti sarana prasarana sekolah, kondisi peserta
didik, kesiapan dalam pembelajaran, dan sebagainya. Salah
satu upaya untuk mensukseskan pembelajaran, dapat dilakukan dengan cara melaksanakan
pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran tematik.
“Karena
Pembelajaran tematik merupakan pola pembelajaran yang mengintegrasikan
pengetahuan, ketrampilan, kreativitas, nilai dan sikap pembelajaran dengan
menggunakan tema. Jadi, pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang melibatkan beberapa pelajaran atau bahkan lintas
rumpun mata pelajaran yang diikat
dengan tema-tema tertentu.”
Dalam
pembelajaran tematik yang terpenting adalah adalah memposisikan peserta didik
sebagai pusat aktivitas, sehingga membuka peluang
bagi guru untuk mengembangkan berbagai strategi dan metodologi pembelajaran yang paling tepat di samping itu membuka
ruang yang luas bagi peserta didik untuk mengalami sebuah pengalaman belajar
yang lebih bermakna, berkesan dan
menyenangkan.
Munculnya
pembelajaran tematik tidak lepas dari tiga aliran filsafat dalam dunia pendidikan, yaitu: konstruktivisme,
progresivisme dan humanism Konstruktivisme memandang bahwa direct
experience (pengalaman langsung) merupakan kunci dalam pembelajaran. Pemahaman
aliran ini, pengetahuan adalah hasil
konstruksi atau bentukan manusia melalui interaksi dengan obyek, fenomena
pengalaman dan lingkungannnya. Filsafat progesivisme menganggap bahwa proses pembelajaran perlu menekankan pada
proses kreativitas memilih dan
menyusun ulang pengetahuan maupun pengalaman belajar peserta didik dalam upaya problem solving (pemecahan
masalah). Filsafat humanisme memandang peserta didik sebagai pribadi yang memiliki keunikan,
potensi dan motivasi yang berbeda satu dengan yang lain.
Pembelajaran
ini berbasis gaya baru untuk membangun pemikiran siswa agar lebih aktif dan kreatif, yang merupakan pendekatan
pembelajaran yang mengembangkan
strategi aktif dan efisien dengan melibatkan siswa secara langsung
belajar mengalami (kontekstual) dalam suasana kelas yang menyenangkan, dinamis,
logis dan demokratis. Sehingga Pendidikan Agama Islam diminati dan tertanam dalam siswa.
Pendidikan agama Islam adalah upaya
sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,
menghayati, hingga mengimani, ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan
untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar
umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.[5] Tujuan pendidikan agama Islam adalah
sesuatu yang ingin dicapai setelah melakukan serangkaian proses pendidikan
agama Islam di sekolah atau madrasah.[6]
Belajar
pendidikan agama Islam juga harus
menyenangkan, karena dalam tematik kegiatan belajar mengajar dirancang khusus
untuk memudahkan siswa dalam memahami pelajaran.
Pembelajaran tematik (pembelajaran terpadu) merupakan suatu pembelajaran yang menyatupadukan serangkaian pengalaman
belajar, sehingga terjadi saling
berhubungan antara satu dengan yang lain dan berpusat pada sebuah pokok
persoalan.
Menurut Marimba (dalam Nur Uhbiyati), pendidikan Islam adalah
bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada
terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.[7]
oleh sebab itu, guru harus mengembangkan
berbagai strategi dan metodologi pembelajaran
yang paling tepat dan membuka ruang yang luas bagi peserta didik untuk
mengalami sebuah pengalaman belajar yang sehingga dapat memotivasi siswa.
Pelaksanaan
pembelajaran tematik di sekolah-sekolah pada saat ini merupakan tema yang menarik untuk dicermati. Hal ini tidak
lepas dari gerakan peningkatan mutu
pendidikan yang dicanangkan oleh Mendiknas dan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Atas dasar
pertimbangan di atas maka penerapan pembelajaran tematik dalam pendidikan agama Islam menjadi sebuah alternatif
terutama untuk sekolah dasar. Karena dengan
pendekatan pembelajaran tematik akan lebih mempercepat proses bimbingan dan pembinaan kualitas personal siswa baik aspek
kognitif, afektif maupun psikomotorik secara seimbang, dan
bertujuan untuk mengembangkan kreativitas
peserta didik dalam menemukan problem solving (pemecahan masalah) dan
membelajarkan bagaimana anak belajar (learning
how to learn).
Penelitian ini berusaha
untuk mengetahui gambaran bagaimana SDN Pematang Kepuh Cilegon melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan pembelajaran tematik. Pembelajaran
tematik bukan dispesifikasikan dengan satu mata pelajaran, dan pembelajaran tematik bukanlah satu mata pelajaran
yang dapat berdiri sendiri, melainkan
beberapa materi pelajaran yang dipadukan dalam satu tema. Untuk itu Penulis tertarik untuk meneliti dengan
pelaksanaan pembelajaran tematik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Pematang Kepuh Cilegon karena sekolah tersebut melaksanakan pembelajaran
tematik dan tempatnya mudah dijangkau..
[1] Subiyanto Paul, Mendidik Dengan Hati,
(Jakarta: PT. Elek Media Kompotindo, 2004), h.13-21.
[2] Mahajir, As'aril, Pendidikan Anak dalam Islam dalam Meniti Man
Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 395.
[4] Ibid., h. 1-2.
[5] Abdul Majid dan Dian Andatani, Pendidikan
Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004),
Cet. Ke-1, h. 130
[6] Gunawan, Kurikulum dan
Pembelajaran, h. 205
[7] Nur Uhbiyati, Ilimu
Pendidikan Islam I, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), Cet. Ke-2, h. 9










0 komentar:
Posting Komentar