Senin, 12 Januari 2015

Pembelajaran Tematik

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Mengasuh dan mendidik anak merupakan tanggung jawab semua, terutama orang tua di keluarga dan guru di sekolah. Karena keterbatasan waktu yang dimiliki orang tua dan frustasinya para pendidik dalam mendidik anak, mereka cenderung menerapkan pola pendidikan yang didapatkan dari pengalaman masa kecil. “Beberapa pola pendidikan dan kebiasaan kurang tepat yang sering dilakukan oleh orang tua atau guru seperti: menyuap anak sebelum melakukan sesuatu, mengancam, menghukum, membandingkan dengan lainnya.”
Anak-anak zaman sekarang berbeda dengan anak-anak zaman dahulu. Anak-anak zaman informasi dan teknologi lebih aktif, kritis dan agresif sehingga dengan penyampaian saja dirasa belum cukup. Mereka harus diperlakukan sesuai dengan kebutuhan, karakter perkembangan anak serta perkembangan zaman. Dalam konteks pendidikan, anak didik (siswa) memiliki peran yang sangat penting karena sebagai sasaran (obyek) sekaligus pelaku (subyek) pendidikan. Perbedaan antara individu satu dengan lainnya, baik itu disebabkan oleh faktor endogen (fitrah) maupun eksogen (lingkungan) yang meliputi aspek jasmani, intelegensi, sosial, bakat, minat maupun lingkungan yang mempengaruhinya sangat menentukan keberhasilan dan masa depan anak.
Keberhasilan pembelajaran juga sangat tergantung dari strategi dan proses pembelajaran yang dilakukan guru meskipun juga masih ditentukan oleh faktor lain seperti sarana prasarana sekolah, kondisi peserta didik, kesiapan dalam pembelajaran, dan sebagainya. Salah satu upaya untuk mensukseskan pembelajaran, dapat dilakukan dengan cara melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran tematik.
“Karena Pembelajaran tematik merupakan pola pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan, kreativitas, nilai dan sikap pembelajaran dengan menggunakan tema. Jadi, pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang melibatkan beberapa pelajaran atau bahkan lintas rumpun mata pelajaran yang diikat dengan tema-tema tertentu.”
Dalam pembelajaran tematik yang terpenting adalah adalah memposisikan peserta didik sebagai pusat aktivitas, sehingga membuka peluang bagi guru untuk mengembangkan berbagai strategi dan metodologi pembelajaran yang paling tepat di samping itu membuka ruang yang luas bagi peserta didik untuk mengalami sebuah pengalaman belajar yang lebih bermakna, berkesan dan menyenangkan.
Munculnya pembelajaran tematik tidak lepas dari tiga aliran filsafat dalam dunia pendidikan, yaitu: konstruktivisme, progresivisme dan humanism Konstruktivisme memandang bahwa direct experience (pengalaman langsung) merupakan kunci dalam pembelajaran. Pemahaman aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia melalui interaksi dengan obyek, fenomena pengalaman dan lingkungannnya. Filsafat progesivisme menganggap bahwa proses pembelajaran perlu menekankan pada proses kreativitas memilih dan menyusun ulang pengetahuan maupun pengalaman belajar peserta didik dalam upaya problem solving (pemecahan masalah). Filsafat humanisme memandang peserta didik sebagai pribadi yang memiliki keunikan, potensi dan motivasi yang berbeda satu dengan yang lain.
Pembelajaran ini berbasis gaya baru untuk membangun pemikiran siswa agar lebih aktif dan kreatif, yang merupakan pendekatan pembelajaran yang mengembangkan strategi aktif dan efisien dengan melibatkan siswa secara langsung belajar mengalami (kontekstual) dalam suasana kelas yang menyenangkan, dinamis, logis dan demokratis. Sehingga Pendidikan Agama Islam diminati dan tertanam dalam siswa.
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.[5] Tujuan pendidikan agama Islam adalah sesuatu yang ingin dicapai setelah melakukan serangkaian proses pendidikan agama Islam di sekolah atau madrasah.[6]
Belajar pendidikan agama Islam  juga harus menyenangkan, karena dalam tematik kegiatan belajar mengajar dirancang khusus untuk memudahkan siswa dalam memahami pelajaran. Pembelajaran tematik (pembelajaran terpadu) merupakan suatu pembelajaran yang menyatupadukan serangkaian pengalaman belajar, sehingga terjadi saling berhubungan antara satu dengan yang lain dan berpusat pada sebuah pokok persoalan.
Menurut Marimba (dalam  Nur Uhbiyati), pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.[7] oleh sebab itu, guru harus mengembangkan berbagai strategi dan metodologi pembelajaran yang paling tepat dan membuka ruang yang luas bagi peserta didik untuk mengalami sebuah pengalaman belajar yang sehingga dapat memotivasi siswa.
Pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah-sekolah pada saat ini merupakan tema yang menarik untuk dicermati. Hal ini tidak lepas dari gerakan peningkatan mutu pendidikan yang dicanangkan oleh Mendiknas dan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Atas dasar pertimbangan di atas maka penerapan pembelajaran tematik dalam pendidikan agama Islam menjadi sebuah alternatif terutama untuk sekolah dasar. Karena dengan pendekatan pembelajaran tematik akan lebih mempercepat proses bimbingan dan pembinaan kualitas personal siswa baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik secara seimbang, dan bertujuan untuk mengembangkan kreativitas peserta didik dalam menemukan problem solving (pemecahan masalah) dan membelajarkan bagaimana anak belajar (learning how to learn).
Penelitian ini berusaha untuk mengetahui gambaran bagaimana SDN Pematang Kepuh Cilegon melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik bukan dispesifikasikan dengan satu mata pelajaran, dan pembelajaran tematik bukanlah satu mata pelajaran yang dapat berdiri sendiri, melainkan beberapa materi pelajaran yang dipadukan dalam satu tema. Untuk itu Penulis tertarik untuk meneliti dengan pelaksanaan pembelajaran tematik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Pematang Kepuh Cilegon karena sekolah tersebut melaksanakan pembelajaran tematik dan tempatnya mudah dijangkau..



[1] Subiyanto Paul, Mendidik Dengan Hati, (Jakarta: PT. Elek Media Kompotindo, 2004), h.13-21.
[2] Mahajir, As'aril, Pendidikan Anak dalam Islam dalam Meniti Man Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 395.
[3]Abdul Munir, dkk., Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik,. (Jakarta: Depag RI,2005), h. 3.
[4] Ibid., h. 1-2.
[5] Abdul Majid dan Dian Andatani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), Cet.  Ke-1, h. 130
[6] Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran, h. 205
[7] Nur Uhbiyati, Ilimu Pendidikan Islam I, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), Cet. Ke-2, h. 9

0 komentar:

Posting Komentar

Friends

Followers

Fave This

Bukan Portal Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts