Login

Masukan username dan password untuk masuk Blogger Dasboard


Widget by yadi
Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 12 Januari 2015

RSUP Hasan Sadikin Kelimpungan Menghadapi Membludaknya jumlah Pasien


Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Hasan Sadikin, Ayi Djembarsari mengatakan, layanan kesehatan memang perlu ditingkatkan agar pelayanan terhadap masyarakat bisa maksimal. Sejauh ini, kata Ayi, pemberi layanan kesehatan kelimpungan menghadapi membludaknya jumlah pasien.
Sejak pemerintah mencanangkan program kesehatan, kata Ayi, jumlah pasien BPJS meningkat setiap tahunnya. Ayi menjelaskan, RS Hasan Sadikin menerima ribuan pasien BPJS setiap bulannya. Namun, kata Ayi, jumlah ruang rawat inap yang dimiliki RS Hasan Sadikin hanya sedikit.
"RS Hasan Sadikin memiliki 996 tempat tidur, 20 pelayanan spesialistik, 133 pelayanan medik sub-spesialistik. 90 persen kamar untuk pasien kelas III. Sebanyak 17.870 pasien merupakan pasien Non-PBI dan 4.839 orang merupakan pasien PBI," ujar Ayi.
Sejauh ini, kata Ayi, 80 persen pasien yang diterima RS Hasan Sadikin adalah peserta BPJS. Kebanyakan pasien BPJS yang diterima RS Hasan Sadikin, kata Ayi, mengidap penyakit ganas seperti kanker. Oleh karena itu, lanjut Ayi, dirinya berharap perhatian terhadap layanan kesehatan bagi pasien ganas bisa lebih besar dari sebelumnya
Continue reading...

Pengaruh Penggunaan Metode Karyawisata terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kebutuhan hidup manusia dalam menjalani kehidupan yang mengarah kepada perkembangan untuk lebih baik dari kehidupan sebelumnya, sehingga pendidikan harus diarahkan kepada upaya untuk memajukan dan mengembangkan umat manusia seutuhnya. Pendidikan merupakan suatu proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku (akhlak) yang sesuai dengan kebutuhan.[1] Jadi, manusia tidak bisa lepas dari proses pendidikan sebab telah menjadi kebutuhan pokoknya.
“Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep dan pandangan hidup mereka.”
Penyelenggaraan pendidikan, selain harus selalu direncanakan  untuk mengembangkan potensi untuk meningkatkan sumber daya manusia, juga harus mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan agar memiliki karakter sebagai manusia yang berbudaya dan terdidik seperti dijelaskan dalam Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 tentang tujuan pendidikan nasional yaitu:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang memiliki sikap demokratis dan bertanggung jawab.[2]
Oleh karena itu, fungsi pendidikan harus benar-benar diperhatikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional, sebab tujuan berfungsi sebagai arah yang jelas terhadap kegiatan penyelenggaraan pendidikan.
“Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal diharapkan mampu merencanakan dan mengembangkan proses pembelajarannya, sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif bagi peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, yaitu berkembangnya seluruh potensi jiwa, terbentuknya karakter atau watak dan peradaban manusia yang bermartabat. Aktivitas pendidikan terkait dengan tujuan pembentukan manusia seutuhnya, dalam rangka memajukan peradaban.”
Sementara itu, mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang  sangat penting terkait dengan perkembangan agama Islam. Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berisikan tuntunan bagi siswa dalam menjalani kehidupan agar memiliki pribadi yang soleh atau solehah sebagaimana yang telah dijalankan oleh pelaku-pelaku sejarah umat Islam terdahulu.
Adanya berbagai jenis hambatan dalam diri guru maupun siswa dapat menimbulkan proses belajar mengajar menjadi tidak efektif dan tidak efisien. Padahal suasana belajar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam sangat berpengaruh dalam peningkatan kualitas belajar mengajar. Apabila pembelajaran itu menyenangkan maka akan dapat menimbulkan minat dan motivasi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini guru harus dapat memfasilitasi siswa agar dapat meningkatkan potensi yang dimiliki oleh siswa dan membuat siswa aktif dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dapat tercapai.
Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang diperoleh siswa sering monoton dan disajikan kurang menarik oleh guru. Dalam pembelajaran konvensional siswa selalu mengantuk dan perhatiannya kurang karena membosankan, sehingga pemahaman belajar menurun.
Penggunaan metode yang kurang tepat dapat menimbulkan kebosanan, kurang dipahami, dan monoton sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar. Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang biasanya menggunakan metode konvensional memang sudah membuat siswa agak aktif, namun kurang dapat mengembangkan keterampilan sosial siswa yang kelak dapat berguna dalam kehidupan sosial.
Kondisi seperti ini membutuhkan strategi pembelajaran yang dapat melibatkan semua peserta didik sehingga dapat saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan. Salah satu alternatif yang bisa dipilih dalam rangka menghasilkan pembelajaran yang berkualitas yaitu pembelajaran kooperatif. Banyak guru menyatakan bahwa mereka telah melaksanakan metode belajar kelompok. Mereka telah membagi para siswa dalam kelompok dan memberikan tugas kelompok. Namun, guru-guru ini mengeluh bahwa hasil kegiatan-kegiatan ini tidak seperti yang diharapkan. Siswa bukannya memanfaatkan kegiatan tersebut dengan baik untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan, mereka malah memboroskan waktu dengan bermain, bergurau dan sebagainya.
Dalam penelitian ini penulis meneliti tentang metode pembelajaran karyawisata, karena berdasarkan survei yang dilaksanakan peneliti di MTs Miftahul Huda Cilegon sudah banyak metode pembelajaran yang diterapkan. Sedangkan metode pembelajaran karyawisata merupakan metode yang paling jarang diterapkan di MTs Miftahul Huda. Metode karyawisata atau belajar melalui kunjungan langsung merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa. Penerapan metode ini dimulai dari beberapa teknik yaitu guru menentukan sumber, siswa disuruh mengamati dan menganalisis sumber, siswa membuat pengembangan program karyawisata dan kemudian siswa mempresentasikan, serta mendiskusikannya.
Metode pembelajaran karyawisata selain membantu siswa untuk melihat langsung peninggalan-peninggalan sejarah perjuangan dan perkembangan agama Islam dan membantu siswa untuk lebih mudah memahami konsep-konsep yang sulit, juga memberikan suasana belajar siswa yang menyenangkan.
Hal lain yang penting dalam pembelajaran karyawisata adalah dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan sikap yang positif, menambah motivasi belajar dan rasa percaya diri bagi siswa, menambah rasa senang berada di sekolah dan rasa sayang terhadap teman-teman sekelasnya.
Seiring dengan hal tersebut, salah satu metode yang diterapkan oleh guru sejarah kebudayaan islam di MTs Miftahul Huda dalam menyampaikan pelajarannya metode karyawisata karena dengan metode ini siswa akan lebih mengerti dan memahami materi pelajaran yang disampaikan.


[1] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), Cet.ke-17, h. 10.
[2] UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Continue reading...

Pembelajaran Tematik

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Mengasuh dan mendidik anak merupakan tanggung jawab semua, terutama orang tua di keluarga dan guru di sekolah. Karena keterbatasan waktu yang dimiliki orang tua dan frustasinya para pendidik dalam mendidik anak, mereka cenderung menerapkan pola pendidikan yang didapatkan dari pengalaman masa kecil. “Beberapa pola pendidikan dan kebiasaan kurang tepat yang sering dilakukan oleh orang tua atau guru seperti: menyuap anak sebelum melakukan sesuatu, mengancam, menghukum, membandingkan dengan lainnya.”
Anak-anak zaman sekarang berbeda dengan anak-anak zaman dahulu. Anak-anak zaman informasi dan teknologi lebih aktif, kritis dan agresif sehingga dengan penyampaian saja dirasa belum cukup. Mereka harus diperlakukan sesuai dengan kebutuhan, karakter perkembangan anak serta perkembangan zaman. Dalam konteks pendidikan, anak didik (siswa) memiliki peran yang sangat penting karena sebagai sasaran (obyek) sekaligus pelaku (subyek) pendidikan. Perbedaan antara individu satu dengan lainnya, baik itu disebabkan oleh faktor endogen (fitrah) maupun eksogen (lingkungan) yang meliputi aspek jasmani, intelegensi, sosial, bakat, minat maupun lingkungan yang mempengaruhinya sangat menentukan keberhasilan dan masa depan anak.
Keberhasilan pembelajaran juga sangat tergantung dari strategi dan proses pembelajaran yang dilakukan guru meskipun juga masih ditentukan oleh faktor lain seperti sarana prasarana sekolah, kondisi peserta didik, kesiapan dalam pembelajaran, dan sebagainya. Salah satu upaya untuk mensukseskan pembelajaran, dapat dilakukan dengan cara melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran tematik.
“Karena Pembelajaran tematik merupakan pola pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan, kreativitas, nilai dan sikap pembelajaran dengan menggunakan tema. Jadi, pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang melibatkan beberapa pelajaran atau bahkan lintas rumpun mata pelajaran yang diikat dengan tema-tema tertentu.”
Dalam pembelajaran tematik yang terpenting adalah adalah memposisikan peserta didik sebagai pusat aktivitas, sehingga membuka peluang bagi guru untuk mengembangkan berbagai strategi dan metodologi pembelajaran yang paling tepat di samping itu membuka ruang yang luas bagi peserta didik untuk mengalami sebuah pengalaman belajar yang lebih bermakna, berkesan dan menyenangkan.
Munculnya pembelajaran tematik tidak lepas dari tiga aliran filsafat dalam dunia pendidikan, yaitu: konstruktivisme, progresivisme dan humanism Konstruktivisme memandang bahwa direct experience (pengalaman langsung) merupakan kunci dalam pembelajaran. Pemahaman aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia melalui interaksi dengan obyek, fenomena pengalaman dan lingkungannnya. Filsafat progesivisme menganggap bahwa proses pembelajaran perlu menekankan pada proses kreativitas memilih dan menyusun ulang pengetahuan maupun pengalaman belajar peserta didik dalam upaya problem solving (pemecahan masalah). Filsafat humanisme memandang peserta didik sebagai pribadi yang memiliki keunikan, potensi dan motivasi yang berbeda satu dengan yang lain.
Pembelajaran ini berbasis gaya baru untuk membangun pemikiran siswa agar lebih aktif dan kreatif, yang merupakan pendekatan pembelajaran yang mengembangkan strategi aktif dan efisien dengan melibatkan siswa secara langsung belajar mengalami (kontekstual) dalam suasana kelas yang menyenangkan, dinamis, logis dan demokratis. Sehingga Pendidikan Agama Islam diminati dan tertanam dalam siswa.
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.[5] Tujuan pendidikan agama Islam adalah sesuatu yang ingin dicapai setelah melakukan serangkaian proses pendidikan agama Islam di sekolah atau madrasah.[6]
Belajar pendidikan agama Islam  juga harus menyenangkan, karena dalam tematik kegiatan belajar mengajar dirancang khusus untuk memudahkan siswa dalam memahami pelajaran. Pembelajaran tematik (pembelajaran terpadu) merupakan suatu pembelajaran yang menyatupadukan serangkaian pengalaman belajar, sehingga terjadi saling berhubungan antara satu dengan yang lain dan berpusat pada sebuah pokok persoalan.
Menurut Marimba (dalam  Nur Uhbiyati), pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.[7] oleh sebab itu, guru harus mengembangkan berbagai strategi dan metodologi pembelajaran yang paling tepat dan membuka ruang yang luas bagi peserta didik untuk mengalami sebuah pengalaman belajar yang sehingga dapat memotivasi siswa.
Pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah-sekolah pada saat ini merupakan tema yang menarik untuk dicermati. Hal ini tidak lepas dari gerakan peningkatan mutu pendidikan yang dicanangkan oleh Mendiknas dan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Atas dasar pertimbangan di atas maka penerapan pembelajaran tematik dalam pendidikan agama Islam menjadi sebuah alternatif terutama untuk sekolah dasar. Karena dengan pendekatan pembelajaran tematik akan lebih mempercepat proses bimbingan dan pembinaan kualitas personal siswa baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik secara seimbang, dan bertujuan untuk mengembangkan kreativitas peserta didik dalam menemukan problem solving (pemecahan masalah) dan membelajarkan bagaimana anak belajar (learning how to learn).
Penelitian ini berusaha untuk mengetahui gambaran bagaimana SDN Pematang Kepuh Cilegon melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik bukan dispesifikasikan dengan satu mata pelajaran, dan pembelajaran tematik bukanlah satu mata pelajaran yang dapat berdiri sendiri, melainkan beberapa materi pelajaran yang dipadukan dalam satu tema. Untuk itu Penulis tertarik untuk meneliti dengan pelaksanaan pembelajaran tematik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Pematang Kepuh Cilegon karena sekolah tersebut melaksanakan pembelajaran tematik dan tempatnya mudah dijangkau..



[1] Subiyanto Paul, Mendidik Dengan Hati, (Jakarta: PT. Elek Media Kompotindo, 2004), h.13-21.
[2] Mahajir, As'aril, Pendidikan Anak dalam Islam dalam Meniti Man Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 395.
[3]Abdul Munir, dkk., Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Tematik,. (Jakarta: Depag RI,2005), h. 3.
[4] Ibid., h. 1-2.
[5] Abdul Majid dan Dian Andatani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), Cet.  Ke-1, h. 130
[6] Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran, h. 205
[7] Nur Uhbiyati, Ilimu Pendidikan Islam I, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), Cet. Ke-2, h. 9
Continue reading...

Minggu, 11 Januari 2015

Di Balik Aksi Anarkis di Prancis


Serangan yang oleh kelompok anarkis di Paris, Prancis beberapa hari kemarin menjadi sorotan dunia.

Ada apa di balik peristiwa tersebut? mungkinkah ini merupakan bagian startegi Yahudi untuk membangun kekuatan?
TEL AVIV - Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, mengundang kaum Yahudi di Prancis dan Eropa untuk pindah ke Israel. Hal Ini dikarenakan makin tingginya aksi anti Yahudi di Eropa.
“Kepada umat Yahudi di Prancis dan di seluruh Eropa. Saya ingin mengucapkan jika Israel bukan hanya tempat ibadah kalian. Tetapi juga rumah kalian,” ujar PM Netanyahu, seperti dilansir RT, Minggu (11/1/2015).
Pernyataan itu keluar setelah empat orang Yahudi tewas dalam serangan teroris di Prancis. PM Netanyahu juga memerintahkan kepada stafnya untuk memudahkan proses imigrasi bagi para kaum Yahudi dari Eropa.
PM Netanyahu juga menambahkan, gerakan radikalisme sedang menguat di seluruh Eropa sehingga keselamatan umat Yahudi terancam.di sini
Continue reading...

Friends

Followers

Fave This

Bukan Portal Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts